NEVER FORGET TO SAY LAILAHA ILLOH

BANGUNAN ASAL MADRASAH DARUN NAJAH YANG MASIH KOKOH SEJAK TAHUN 1973

Kamis, 10 November 2011

Peristiwa 10 November

Peristiwa 10 November

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Pertempuran Surabaya
Bagian dari Perang Kemerdekaan Indonesia
Pertempuran Surabaya
Tentara India Britania menembaki penembak runduk Indonesia di balik tank Indonesia yang terguling dalam pertempuran di Surabaya, November 1945.
Tanggal 27 Oktober - 20 November, 1945
Lokasi Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Hasil Inggris menguasai Surabaya
Pihak yang terlibat
 Indonesia  Britania Raya
 Belanda
Komandan
Bung Tomo Brigjen A. W. S. Mallaby †
Mayjen Robert Mansergh
Kekuatan
20,000 tentara
100,000 sukarelawan[1]
30,000 (puncak)[1]
didukung tank, pesawat tempur, dan kapal perang
Jumlah korban
6,000[2] - 16,000[1] tewas 600[3] - 2,000[1] tewas

Pertempuran Surabaya merupakan peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 10 November 1945 di Kota Surabaya, Jawa Timur. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme. [2]

Daftar isi

 [sembunyikan

[sunting] Kronologi penyebab peristiwa

[sunting] Kedatangan Tentara Jepang ke Indonesia

Tanggal 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, dan tujuh hari kemudian tanggal 8 Maret 1942, pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang berdasarkan Perjanjian Kalijati. Setelah penyerahan tanpa syarat tesebut, Indonesia secara resmi diduduki oleh Jepang.

[sunting] Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki. Peristiwa itu terjadi pada bulan Agustus 1945. Dalam kekosongan kekuasaan asing tersebut, Soekarno kemudian memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

[sunting] Kedatangan Tentara Inggris & Belanda

Setelah kekalahan pihak Jepang, rakyat dan pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Maka timbullah pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945. Tentara Inggris datang ke Indonesia tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) atas keputusan dan atas nama Blok Sekutu, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Namun selain itu tentara Inggris yang datang juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris untuk tujuan tersebut. Hal ini memicu gejolak rakyat Indonesia dan memunculkan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia di mana-mana melawan tentara AFNEI dan pemerintahan NICA.

[sunting] Insiden di Hotel Yamato, Tunjungan, Surabaya

Hotel Oranye di Surabaya tahun 1911.

Setelah munculnya maklumat pemerintah Indonesia tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Saka Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia, gerakan pengibaran bendera tersebut makin meluas ke segenap pelosok kota Surabaya. Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru / Hotel Yamato (bernama Oranje Hotel atau Hotel Oranye pada zaman kolonial, sekarang bernama Hotel Majapahit) di Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya.

Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman pada sore hari tanggal 18 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara. Keesokan harinya para pemuda Surabaya melihatnya dan menjadi marah karena mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia, hendak mengembalikan kekuasan kembali di Indonesia, dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.

Tak lama setelah mengumpulnya massa di Hotel Yamato, Residen Soedirman, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, datang melewati kerumunan massa lalu masuk ke hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono. Sebagai perwakilan RI dia berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawannya dan meminta agar bendera Belanda segera diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Dalam perundingan ini Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda dan menolak untuk mengakui kedaulatan Indonesia. Perundingan berlangsung memanas, Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, yang kemudian juga tewas oleh tentara Belanda yang berjaga-jaga dan mendengar letusan pistol Ploegman, sementara Soedirman dan Hariyono melarikan diri ke luar Hotel Yamato. Sebagian pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Soedirman kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera dan bersama Koesno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang bendera kembali sebagai bendera Merah Putih.

Setelah insiden di Hotel Yamato tersebut, pada tanggal 27 Oktober 1945 meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris . Serangan-serangan kecil tersebut di kemudian hari berubah menjadi serangan umum yang banyak memakan korban jiwa di kedua belah pihak Indonesia dan Inggris, sebelum akhirnya Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Sukarno untuk meredakan situasi.

[sunting] Kematian Brigadir Jenderal Mallaby

Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby

Setelah gencatan senjata antara pihak Indonesia dan pihak tentara Inggris ditandatangani tanggal 29 Oktober 1945, keadaan berangsur-angsur mereda. Walaupun begitu tetap saja terjadi bentrokan-bentrokan bersenjata antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya. Bentrokan-bentrokan bersenjata di Surabaya tersebut memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945 sekitar pukul 20.30. Mobil Buick yang ditumpangi Brigadir Jenderal Mallaby berpapasan dengan sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah. Kesalahpahaman menyebabkan terjadinya tembak menembak yang berakhir dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby oleh tembakan pistol seorang pemuda Indonesia yang sampai sekarang tak diketahui identitasnya, dan terbakarnya mobil tersebut terkena ledakan granat yang menyebabkan jenazah Mallaby sulit dikenali. Kematian Mallaby ini menyebabkan pihak Inggris marah kepada pihak Indonesia dan berakibat pada keputusan pengganti Mallaby, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh untuk mengeluarkan ultimatum 10 November 1945 untuk meminta pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan pada tentara AFNEI dan administrasi NICA.

[sunting] Perdebatan tentang pihak penyebab baku tembak

Mobil Buick Brigadir Jenderal Mallaby yang meledak di dekat Gedung Internatio dan Jembatan Merah Surabaya

Tom Driberg, seorang Anggota Parlemen Inggris dari Partai Buruh Inggris (Labour Party). Pada 20 Februari 1946, dalam perdebatan di Parlemen Inggris (House of Commons) meragukan bahwa baku tembak ini dimulai oleh pasukan pihak Indonesia. Dia menyampaikan bahwa peristiwa baku tembak ini disinyalir kuat timbul karena kesalahpahaman 20 anggota pasukan India pimpinan Mallaby yang memulai baku tembak tersebut tidak mengetahui bahwa gencatan senjata sedang berlaku karena mereka terputus dari kontak dan telekomunikasi. Berikut kutipan dari Tom Driberg:

"... Sekitar 20 orang (serdadu) India (milik Inggris), di sebuah bangunan di sisi lain alun-alun, telah terputus dari komunikasi lewat telepon dan tidak tahu tentang gencatan senjata. Mereka menembak secara sporadis pada massa (Indonesia). Brigadir Mallaby keluar dari diskusi (gencatan senjata), berjalan lurus ke arah kerumunan, dengan keberanian besar, dan berteriak kepada serdadu India untuk menghentikan tembakan. Mereka patuh kepadanya. Mungkin setengah jam kemudian, massa di alun-alun menjadi bergolak lagi. Brigadir Mallaby, pada titik tertentu dalam diskusi, memerintahkan serdadu India untuk menembak lagi. Mereka melepaskan tembakan dengan dua senapan Bren dan massa bubar dan lari untuk berlindung; kemudian pecah pertempuran lagi dengan sungguh gencar. Jelas bahwa ketika Brigadir Mallaby memberi perintah untuk membuka tembakan lagi, perundingan gencatan senjata sebenarnya telah pecah, setidaknya secara lokal. Dua puluh menit sampai setengah jam setelah itu, ia (Mallaby) sayangnya tewas dalam mobilnya-meskipun (kita) tidak benar-benar yakin apakah ia dibunuh oleh orang Indonesia yang mendekati mobilnya; yang meledak bersamaan dengan serangan terhadap dirinya (Mallaby).

Saya pikir ini tidak dapat dituduh sebagai pembunuhan licik... karena informasi saya dapat secepatnya dari saksi mata, yaitu seorang perwira Inggris yang benar-benar ada di tempat kejadian pada saat itu, yang niat jujurnya saya tak punya alasan untuk pertanyakan ... " [4]

[sunting] Ultimatum 10 November 1945

Setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, penggantinya, Mayor Jenderal Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945.

Ultimatum tersebut kemudian dianggap sebagai penghinaan bagi para pejuang dan rakyat yang telah membentuk banyak badan-badan perjuangan / milisi. Ultimatum tersebut ditolak oleh pihak Indonesia dengan alasan bahwa Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri, dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) juga telah dibentuk sebagai pasukan negara. Selain itu, banyak organisasi perjuangan bersenjata yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya kembali pemerintahan Belanda yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia.

Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala besar, yang diawali dengan pengeboman udara ke gedung-gedung pemerintahan Surabaya, dan kemudian mengerahkan sekitar 30.000 infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang.

Inggris kemudian membombardir kota Surabaya dengan meriam dari laut dan darat. Perlawanan pasukan dan milisi Indonesia kemudian berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Terlibatnya penduduk dalam pertempuran ini mengakibatkan ribuan penduduk sipil jatuh menjadi korban dalam serangan tersebut, baik meninggal maupun terluka.

Bung Tomo di Surabaya, salah satu pemimpin revolusioner Indonesia yang paling dihormati. Foto terkenal ini bagi banyak orang yang terlibat dalam Revolusi Nasional Indonesia mewakili jiwa perjuangan revolusi utama Indonesia saat itu.[5]

Di luar dugaan pihak Inggris yang menduga bahwa perlawanan di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo tiga hari, para tokoh masyarakat seperti pelopor muda Bung Tomo yang berpengaruh besar di masyarakat terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya sehingga perlawanan terus berlanjut di tengah serangan skala besar Inggris.

Tokoh-tokoh agama yang terdiri dari kalangan ulama serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya juga mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai) shingga perlawanan pihak Indonesia berlangsung lama, dari hari ke hari, hingga dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran skala besar ini mencapai waktu sampai tiga minggu, sebelum seluruh kota Surabaya akhirnya jatuh di tangan pihak Inggris.

Setidaknya 6,000 - 16,000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. [2]. Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600 - 2000 tentara. [3] Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada hari 10 November ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia hingga sekarang.

Sabtu, 15 Oktober 2011


Sabtu, 01 Oktober 2011

Kamis, 21 Juli 2011

PONTREN DARUN NAJAH

PONTREN DARUN NAJAH
Prayer Requesting Ease When Facing Adversity
By: Badrul Tamam
Praise be to Allah. Hopefully terlimpah prayers and greetings to the Prophet, his family and his companions.
In living this life, we often faced with difficulties. Sometimes the difficulty was hard to make us almost despair. However, faith in the power of Allah Ta'ala is not infinite, makes us remain patient and have hope.
Indeed the universe lies in the power and control of Allah Ta'ala. Everything is obedient to the statutes and His will. No one can move or act except with power, strength, will and His permission. What He will definitely happen. Conversely, unwanted Him will never happen.
God Almighty to do anything. He was able to make everything easy into something difficult, is also something that is difficult becomes easy. Nothing is difficult for Him, for He has power over everything. Because of the difficulties and the various trials of life we ​​must not despair. There is still a God we can ask and ask Him for help. So we are commanded to pray when in trouble,
اللهم لا سهل إلا ما جعلته سهلا و أنت تجعل الحزن إذا شئت سهلا
Laa Allaahumma Sahla Illaa Anta Wa Maa Ja'altahu Sahlaa Taj'alul Hazna Idza Syi'ta Sahlaa
"O Allah, there is no ease except what You make easy. And if you will, you will make trouble into ease. "
Does this prayer Derived from the Hadith?
Shaykh Muhammad ibn Salih rahimahullaah in one of the fatwa said, "This prayer, I do not know the origin (the source) from Assunnah, but it is spoken by many people." A similar statement he obtained in Cassette "Nuur 'ala al-Darb" cassette No. . 344 minutes to 22. But true that the prayer above stems from the legacy of the Prophet sallallaahu 'alaihi wasallam.
It was narrated from Anas ibn Malik radi 'anhu, the Prophet sallallaahu' alaihi wasallam said,
اللهم لا سهل إلا ما جعلته سهلا و أنت تجعل الحزن إذا شئت سهلا

 
"O Allah, there is no ease except what You make easy. And if you will, you will make trouble into ease. "(Narrated by Ibn Hibban in Shahihnya no. 2427, in the Sunni Ibn al-Amal al-Yaum Begin wa no. 351, Abu Nu'aim in Akhbar Ashfahan: 2 / 305 , Al-Imam al-Targhib Ashbahani in: 1 / 131. Shaykh al-Albani in Lineage Saheehah menshahihkannya 6 / 902, no. 2886 and said, "isnad saheeh according to Muslim requirements.")
This prayer is also mentioned by the Author Hisnul Muslim, DR. Sa'id bin Ali bin al-Qahthani Wahf, on things. 90 with the title, "Prayer for those who get into trouble." He mentions that Shaykh al-Arnauth menshahihkannya in Takhrij Adzkar lil al-Nawawi, p.. 106.
Meaning of Prayer
The meaning of the prayer above, that God does not make things easy for humans. There is no convenience to them, except what Allah made easy. And real convenience is what God made easy. Conversely, the difficulties and hardship if God wills can be easy and light. As the ease and mild cases can be difficult and heavy, if Allah wills. Since all cases are in the hands of Allah 'Azza wa Jalla.
Then the content of this prayer, someone ask God to facilitate all business is difficult and praised Allah 'Azza wa Jalla that all affairs are in His hand, if He wills, the difficulty can be easy.
As already advised, Allah 'Azza wa Jalla omnipotent do anything. And He is able to make easy into something difficult, is also something that is difficult becomes easy. Nothing is difficult for Him, for He has power over all things.

    
Then the content of this prayer:

    
Someone ask God to facilitate all business is difficult and praised Allah 'Azza wa Jalla that all affairs are in His hand, if He wills, the difficulty can be easy.
On the Side Prayer, What Can Be Done?
Allah Ta'ala says,
يا أيها الذين آمنوا استعينوا بالصبر والصلاة
"O ye who believe, ask for help (to Allah) with patience and (do) prayer." (Surat al-Baqarah: 153)
Allah explains that the best way to ask God's help in dealing with various disasters (among other difficulties in life) is to be patient and pray.
And in a hadith mentioned that the Prophet sallallaahu 'alaihi wasallam when faced with a problem then he immediately prayed. (Narrated by Abu Dawood and Ahmad bin Hudhayfah of Yemen)
While looking forward to in this verse there are two kinds, namely patient in order to leave the various cases illegitimate and sin, and be patient in performing obedience and worship. And the patient form the second is more reward, and that patience is a closer point to get ease.
Abdur-Rahman bin Zayd bin Aslam said, "Be patient there are two forms: be patient for God to perform what He loves, although heavy on the soul and body. And be patient for God from all that He hates even desires against it. Who are the conditions like this then he is of the class of people who are patient will survive, God willing. "(Quoted briefly from Tafsir Ibn Kathir in his commentary paragraph above)

    
Be patient there are two forms: be patient for God to perform what He loves, although heavy on the soul and body. And be patient for God from all that He hates even desires against it. (Abdur-Rahman bin Zayd bin Aslam)
Some Other Prayer For Getting Ease:

    
* Prayer when overwritten calamity and distress:
يا حي يا قيوم برحمتك أستغيث
"O Almighty Eternal Life, the continuous care of (His creatures), only with your grace, I ask for help."
عن أنس بن مالك قال كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا كربه أمر قال يا حي يا قيوم برحمتك أستغيث
From Anas ibn Malik said, "It is the Prophet sallallaahu 'alaihi wasallam, when faced with a problem, he prayed," O Almighty Eternal Life, the continuous care of (His creatures), only with your grace, I ask for help. "(Narrated by al-Tirmidhi no. 3524. Dihassankan by Al-Albani in Lineage Saheehah, no. 3182)

    
* Prayer of Jonah while in the belly of the fish:
أن لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين
"That there is no God (the right to be worshiped) but You. Glory to You, verily I was among those who do wrong. "(Surat al-Anbiya ': 87)
Of Sa'ad ibn Abi Waqqash radi 'anhu said: The Prophet sallallaahu' alaihi wasallam said, "Prayer of the Prophet Jonah taatkala he was in the belly of the fish: That there is no God (the right to be worshiped) but You. Glory to You, verily I was among those who do wrong. Surely not a Muslim who prayed to his Lord with a prayer under any circumstances except Allah will grant him. "(Narrated by al-Tirmidhi no. 3505 and classed as saheeh al-Albani in Lineage Saheehah no. 1644)
And in the history of al-Hakim, Rasululah sallallaahu 'alaihi wasallam said, "Shall I tell you something if you overwrite a problem or an exam in the affairs of this world, then prayed with him." That is the prayer of the Prophet Jonah Dzun Nun or above.

    
* Prayer time out of the house:
بسم الله توكلت على الله لا حول ولا قوة إلا بالله
"In the name of God, I'm sole trust in God, there is no power and strength except by Him."
It was narrated from Anas ibn Malik, the Prophet sallallaahu 'alaihi wasallam said, "If someone came out of his house and read,
بسم الله توكلت على الله لا حول ولا قوة إلا بالله
"In the name of God, I'm sole trust in God, there is no power and strength except by Him." He said, It is said at the time, "Thou hast given a clue, dicukupkan, and maintained. So stay away from him so that satan Satanic others said to him, "Kaifa birajulin laka? (What can you do against someone) who has given a clue, has dicukupkan, and has been maintained? "(Narrated by Abu Dawud no. 4431, al-Tirmidhi no. 3348, Ibn Hibban no. 823, and Ibn Sunni in 'Amal wa al-Yaum al-Begin, no. 177. Classed as saheeh by Shaykh al-Albani in Saheeh al-Tirmidhi no. 3426, Al-Misykah no. 2443, also in al-Kalim al-Thayyib) and there are still some other prayers.
Cover
A Muslim should familiarize themselves with the prayer taught by the Sunnah in the face of adversity. Because the people who teach it, namely the Prophet sallallaahu 'alaihi wasallam, is the most knowledgeable man with a prayer that fits and most useful. And should also choose a saheeh prayers, because there are some narrations that mention or ask for ease, but da'eef. Therefore, it is important for us to record and memorize the prayers that were taught by the Prophet sallallaahu 'alaihi wasallam both general or bound by time and place. Although there is no prohibition to pray with the sentence and any language, because God is omniscient of what is delivered His servants. Allaah Ta'ala knows best. Allaah Ta'ala knows best. . . http://m.voa-islam.com/news/doa/2011/07/21/15629/doa-memohon-kemudahan-saat-menghadapi-kesulitan/